Rabu, 20 Februari 2013 | By: Septi

Belajar bahasa Jepang


Beberapa hari kemarin aku baru nonton film Jepang. Sebenernya dah lama tu film nginep di laptopku, akhir bulan januari, 27 Januari 2013 kemarin ngopi dari Laptopnya Pink. Tapi baru sempet ditonton. Judul filmnya Kimi Ni Tokode. Ini film tentang cinta dan persahabatan. Menyayangi seseorang dengan cara tak terduga.

Cukup bikin tissue Tessaku yang berisi 50 sheets – 3 ply tinggal beberapa lembar. Cukup bikin kangen pengen nonton koleksi film Jepang-jepangku yang lain kayak B’zer Beat (Salah satu film yang bakal bikin semangat muncul! Perlu ditonton buat yang belum nonton). Cukup bikin kangen masa-masa ketika aku lagi semangat-semangatnya belajar bahasa Jepang.

Nah,,,aku pengen berbagi bahasa Jepang. Bahasa jepang itu beda dari bahasa Mandarin. Kalau bahasa Mandarin itu pake huruf kanji sebagai cara penulisannya, bahasa Jepang itu punya 3 huruf asli sebagai cara penulisannya, dan satu huruf lagi sebagai cara membacanya.

Huruf jepang yang aku maksud tadi itu.....
1.      HIRAGANA dipake buat nulis kata-kata jepang asli.
2.      KATAKANA dipake buat nulis kata-kata serapan dari bahasa asing.
3.      KANJI ini tulisan/huruf yang berasal dari huruf Mandarin.
4.    ROOMAJI ini huruf latin. Dipake sebagai pelafalan biar lebih mudah membaca huruf Katakana, Hiragana, maupun Kanji.

Beberapa Aisatsu (salam)
Ohayō gozaimasu! ==è Selamat Pagi
Ohayō ==è Selamat Pagi
Konnichiwa! ==è Selamat Sore!
Konbawa ==è Selamat Malam
Oyasuminasai ==è Selamat Tidur
Hajimemashite ==è Hallo (salam perjumpaan)
Anata wa genki desuka? ==è Apa kabar?
Ogenki desuka/ikaga desuka? ==è Bagaimana keadaanmu?
Watashi wa genki desu ==è Saya baik-baik
Watashi wa genki desu. Anata wa? ==è Saya baik-baik. Kamu?
Watashi mo genki desu ==è Saya juga baik-baik
Watashi mo ==è Saya juga
Arigatō gozaimasu ==è Terimakasih
Dōmo arigatō gozaimasu ==è Terima kasih banyak
Arigatō ==è Terima kasih
Dōitashimashite ==è Terimakasih kembali
Kochira koso ==è Tidak perlu berterimakasih
Sayōnara ==è Selamat tinggal/Sampai jumpa
Mata ashita ==è Sampai besok/sampai bertemu besok
Sumimasen ==è Maaf/permisi/numpang tanya
Gomennasai ==è Maaf/menyesal
Daijōbu desu ==è Tidak apa-apa
Dōzo ==è Silakan/tolong
Irasshai/irasshaimase ==è Selamat datang
Dōzo haitte kudasai ==è Silakan masuk
Dōzo suwatte kudasai ==è Silakan duduk
Nan desuka ==è Apa
Moshimoshi ==è Hallo (waktu menelpon)

Nah,,,,itu yang aku tahu ucapan salam di Jepang (semoga aku bisa kesana.....Aamiin).

Kamis, 31 Januari 2013 | By: Septi

Pilih mana Ya? Dicintai atau mencintai?

     Tiba-tiba saja terlintas dipikiranku, dan jadi teringat dipikiranku dengan seorang teman. Entah itu nasehat, saran, atau pilihannya sendiri. Ah,,,ya, aku ingat, itu pilihannya sendiri. Seseorang yang juga menyukai Pink. Katanya, “lebih enak hidup dengan orang yang mencintai kita, dari pada hidup dengan orang yang kita cintai”.

“Kalau kita berumah tangga dengan orang yang mencintai kita, hidup itu jadi enak. Yang jelas, apa-apa kita yang di utama’in,,,” itu kalimat masih jelas ku  dengar.

    Sebagai manusia, aku juga akan bilang “wajar”, karena di dalam buku kesehatan mental yang ditulis Bapak Anwar Sutoyo, salah satu dosen di Unnes, manusia itu mempunyai kebutuhan untuk dicintai.
Tapi jika aku jadi manusia asing atau sebatang tamanam yang terus menjalar mencari cahaya, yang mencintai tanpa logika,,,,Emmm,,,

Apa dia ingin selalu di agung-agungkan seperti Ratu/Raja?
Apa dia terlalu mencintai dirinya sendiri sehingga takut tersakiti bila mencintai?
Dia egois? Memikirkan dirinya sendiri, memikirkan dirinya sendiri itu berarti masih anak kecil, belum dewasa.

     Kata Pink, orang dewasa itu orang yang memikirkan orang lain, bukan orang yang memikirkan dirinya sendiri.
Ingin selalu di agung-agungkan, selalu ditemani saat terhempas, tapi tak benar-benar ikhlas memahami orang yang mencintai.
Itu egois.
        Tak berani berkorban, itu hanya berani memilih tempat yang pasti nyaman, bukan tempat berani. Dan kejujuran diperlukan dalam hidupmu, tapi tidak semua kejujuran bisa diterima oleh orang lain. Bahkan banyak kejujuran yang tak dihargai.