Senin, 09 Februari 2015 | By: Septi

Soup Keong

Soup ayam, soup jagung manis, soup kambing itu dah banyak di jual dimana-nama. Tapi kalau soup Keong tu penjualnya baru sedikit, penikmatnya pun masih jarang. Belum semua kota ada penjual soup keong. 

Di alun-alun Purbalingga tu dikelilingi berbagai pedagang. Dari sandang sampai pangan ada semua, kecuali papan ya.... 

Aku yang lagi jadi guide gratisnya Farikha, engga pernah kepikiran buat ngajak Farikha icip-icip soup keong karena aku sendiri belum pernah makan. Belum tau rasanya enak bener pa biasa aja atau justru aneh. Cuma pernah denger dari teman katanya enak.

Farikha yang udah pernah makan soup keong di Bandung, lihat berbagai pedagang di sekitar alun-alun justru pengen makan soup keong. Dia memantapkanku kalau soup keong tu enak, kenyal-kenyal gimana gitu, apalagi cara makannya yang unik. Alhasil aku pesan semangkuk soup keong lalu mencari tempat duduk diantara rerumputan (kaya kambing ya cari tempat di rerumputan).
Soup Keong

Engga begitu lama, cuma satu menit soup keong ma alat untuk memakannya (tusuk gigi) datang. Aku agak heran, kenapa disajikan sama tusuk gigi gitu.... Mukaku udah kelihatan bloon mungkin, jadi Farikha nerangin gimana cara makan soup keong. Ternyata tusuk gigi yang biasa buat ambil sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, kali ini digunakan buat ngambil daging keongnya. Danging keong ditusuk dengan tusuk gigi lalu tarik keluar dan masukkan ke mulut kita. Meskipun tangan jadi basah semua, tapi memang cara makannya cukup unik. Rasanya juga enak, kenyel-kenyel seperti kerang. Buat yang belum pernah nyoba...harus cepet-cepet nyoba.... Biar bisa cerita enaknya soup keong.
Sabtu, 31 Januari 2015 | By: Septi

Komunitas Sepeda Tua Purbalingga

Untuk kedua kalinya Farikha berkunjung ke Purbalingga. Aku merasa seperti obat penghilang rasa sakit buat otaknya, karena sekarang ini otaknya lagi sakit mikirin sidang tesis untuk gelar M.Pd. Bukannya cepat-cepat direvisi tapi justru dia cari penghiburan di Purbalingga. 

Dari pagi hingga siang, dia hanya pindah tempat tidur. Yang biasanya tidur di Bandung, jadi tidur di rumahku.
Beruntungnya cuaca cukup cerah, jadi aku bisa ngajak dia jalan-jalan di sore hari ke alun-alun Purbalingga.
Niatku mempertemukan Farikha ma Agus kesampaian juga, bonusnya aku dapet traktiran lumpia dari Agus. Sementara Agus ma Farikha ngobrol, aku nyoba keliling lihat-lihat. 

Ada hal baru dan unik yang cukup menarik mataku. Segerombolan anak-anak di depan pendopo sedang menata rapi sepeda tuanya. Itu menjelaskan kalau mereka baru datang. "Sepertinya mereka remaja yang berumur 15 tahunan" pikirku.

Anggota Sepeda Ontel Tua Purblingga
Sinar lampu pendopo membantuku melihat wajah-wajah para remaja itu. Dari jarak 5 meteran, aku udah bisa mengenali mereka. Wajah yang tidak asing. Wajah-wajah anak SMP N 3 Kalimanah, Akbar, Janu, Dani dan lainnya. Mereka lagi bercakap-cakap dan terlihat keren sekali dengan sepeda-sepeda tuanya. Percakapan mereka seketika terhenti saat kusapa. Mereka terlihat agak sedikit terkejut melihatku. Tapi itu hanya sesaat. Aku dan mereka langsung bisa ngobrol kesana kemari.

Dani yang biasanya pendiam,  ternyata setelah kumpul dengan teman-temannya jadi cukup cerewet. Paling narsis...minta difoto sendirian.
 
Dani dan Sepedanya
Anggota Terkecil, Ikbal
 
Anggota Sepeda Ontel Tua
Setelah ngobrol kesana kemari ( kebanyakan si aku yang nanya), ternyata mereka merupakan anggota dari Komunitas Sepeda Ontel Tua. Mereka biasa menyebut diri mereka sebagai OSCAR, aku lupa tanya kepanjangannya apa. Anggota sepeda ontel tua sangat beragam, dari anak SD seperti ikbal sampai orang tua yang sudah memiliki cucu. Yang terpenting, mereka punya sepeda tua langsung bisa gabung. Janu dan teman-teman membeli sepeda tua dengan harga sekitar 3 jutaan, di pasar hewan Purbalingga. Dan kini sepeda tua unik mereka selalu menemani kemana pun mereka pergi, termasuk ke sekolah.

Sepeda Ontel Tua
Terkadang, komunitas sepeda tua mengadakan acara keliling kota Purbalingga dengan kostum kaos warna hitam. Sungguh begitu menarik melihat ratusan sepeda tua yang sudah sangat jarang ditemukan kini berjejer rapi di tepi jalan. Bikin sehat pemiliknya, engga menimbulkan polusi. Semoga semakin banyak orang yang menggemari sepeda tua. Dan buat temen-temen yang pengen gabung, dateng aja....biasanya tiap malam minggu mereka selalu nongkrong di alun-alun.